Senin, 20 Oktober 2014

Terimbas Ebola, Bursa AS Ditutup Anjlok



Saham-saham di Wall Street mengakhiri hari perdagangan bergejolak pada Rabu (15/10/2014) waktu setempat (Kamis pagi WIB) di posisi merah, sedikit menguat dari penurunan tengah hari yang dipicu oleh kekhawatiran atas pelemahan ekonomi global dan wabah Ebola.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 173,45 poin (1,06 persen) menjadi ditutup pada 16.141,74. Indeks saham unggulan atau blue-chip ini telah jatuh lebih dari 400 poin di awal sesi.

Indeks S&P 500 yang berbasis lebih luas turun 15,21 poin (0,81 persen) menjadi berakhir di 1.862,49, sedangkan indeks komposit Nasdaq kehilangan 11,85 poin (0,28 persen) pada 4.215,32.

Indeks-indeks utama berada di wilayah negatif sepanjang sesi seiring dengan merahnya pasar saham eropa . Pasar ekuitas di Inggris, Perancis dan Jerman ditutup lebih dari dua persen lebih rendah, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS juga tenggelam di bawah acuan utama sebelum menguat.

"Kami belum melihat tingkat volatilitas ini sejak 2011," kata Tyson McCabe, direktur senior jasa konsultasi di Nasdaq.

"Ada begitu banyak poin data yang berbeda datang, ada Ebola atau beberapa poin data AS yang lemah, bahwa pelaku pasar benar-benar kesulitan dengan di mana mendapatkan dan membaca mereka," tambahnya.

Saham-saham turun tajam segera setelah pasar dibuka menyusul laporan mengecewakan pada penjualan ritel dan harga produsen AS.

Pasar ekuitas kemudian mengurangi kerugian mereka, tetapi jatuh lagi pada tengah hari segera setelah pejabat kesehatan AS memperingatkan lebih banyak kasus potensial Ebola setelah kesehatan kedua pekerja perawatan di Dallas didiagnosis terkena virus.

Saham mulai pengupas kerugian mereka lagi segera setelah laporan Beige Book Federal Reserve mengatakan ekonomi AS terus tumbuh pada sekitar laju moderat yang sama dari beberapa bulan terakhir.

Pergerakan tiba-tiba pasar terangkat beberapa investasi, seperti Russell 2000, indeks saham berkapitalisasi kecil yang diawasi ketat, yang naik 1,0 persen.

Bank of America turun 4,6 persen setelah melaporkan kerugian kuartal ketiga 70 juta dolLar AS, karena biaya 5,3 miliar doLlar AS pada biaya hukum menyusul penyelesaian surat berharga berbasis KPR atau hipotek.

Ekuitas keuangan lainnya menderita kerugian mendalam, termasuk anggota Dow JPMorgan Chase  melemah 4,2 persen, Citigroup (3,5 persen), dan Wells Fargo (2,0 persen).

Anggota Dow, Wal-Mart Stores turun 3,6 persen setelah memotong proyeksi penjualan setahun penuh menjadi dua hingga tiga persen dari kisaran sebelumnya tiga sampai lima persen.

Harga obligasi melompat lebih tinggi. Imbal hasil pada obligasi pemerintah AS berjangka 10-tahun turun menjadi 2,09 persen dari 2,21 persen pada Selasa, setelah sebelumnya jatuh di bawah dua persen untuk pertama kalinya selama sesi perdagangan sejak Juni 2013.

Pada obligasi 30-tahun turun menjadi 2,88 persen dari 2,96 persen. Harga dan imbal hasil obligasi bergerak terbalik.
Sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/10/16/080947526/Terimbas.Ebola.Bursa.AS.Ditutup.Anjlok


Nilai Tukar Tembus Rp 12.200, "Outflow" di Pasar Obligasi Rental Terjadi



Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto, mengungkakan bahwa profil pembeli Surat Utang Negara (SUN) umumnya bukan bank sentral. Karena itu, SUN rentan diperjualbelikan kembali.

Menurut Handy, hal tersebut paling rentan terjadi jika nilai tukar rupiah mencapai Rp 12.200. "Kalau rupiah di atas Rp 12.200 per dollar AS, akan mendorong adanya outflow. Di September 2013 dan Oktober hitungan kita kalau rupiah melemah sampai Rp 12.200 akan ada outflow sampai Rp 10 triliunan. Ini musti kita waspadai," ujarnya di Jakarta, Rabu (15/10/2014).

Handy menuturkan, jika rupiah dibiarkan melemah, bahkan sampai Rp 12.400, akan ada potensi outflow yang cukup besar di pasar obligasi. Adapun, jenis obligasi yang rentan diperjualbelikan kembali adalah obligasi bertenor pendek.

"Pada outflow 2011, 2012, 2013, dan 2014 yang paling gampang keluar itu obligasi yang tenornya pendek. Artinya memang ada benarnya juga kalau investor obligasi asing banyak tenor panjang, umumnya long term investor. Sekarang tenor menengah dan panjang masih cukup dimiliki oleh asing, sehingga potensi outflow yang signifikan saat rupiah stabil mustinya terbatas. Kita lihat yang jangka pendeknya sudah keluar sekitar Rp 6 triliun," imbuh Handy.

Handy menambahkan, pihaknya sudah membuat prediksi pasar obligasi tahun depan. Menurutnya, beberapa hal yang perlu dicermati adalah kenaikan Fed Fund Rate, US Treasury yield. Kenaikan Fed Fund Rate sudah pasti meningkatkan US Treasury yield. Namun, jumlahnya tidak terlalu tinggi.

"Outlook kita, challengenya memang kemungkinan Fed Fund Rate naik dan dampak kenaikan US Treasury yield seperti apa. Secara normal, kalau Fed Fund Rate-nya naik, ya US Treasury yield-nya naik. Kenaikannya tidak akan setinggi suku bunga Fed Fund Rate. Asumsi Fed Fund Rate naik sampai 1 persen, diperkirakan US treasury yield 10 tahun juga tidak akan sampai 1 persen," ujarnya.
Sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/10/16/050700426/Nilai.Tukar.Tembus.Rp.12.200.Outflow.di.Pasar.Obligasi.Rentan.Terjadi

SBY Pernah Naikkan Harga BBM, tapi Subsidi Terus Membengkak




Kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) diyakini tidak mampu menyelesaikan persoalan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja negara (APBN) selagi tidak ada pembenahan di sektor transportasi.

Gde Pradnyana, Sekretaris SKK Migas menegaskan, untuk mengatasi beban subsidi BBM, solusi yang ditempuh pemerintahan sebelumnya adalah menggenjot produksi dan menaikan harga BBM. Namun terbukti kebijakan tersebut tidak menyelesaikan masalah.

“Tahun 2012 pemerintah (SBY) sudah menaikkan harga BBM dari Rp 4.500 ke Rp 6.500 per liter, tapi ternyata beban subsidi tetap saja membengkak,” kata Gde dalam keterangan resmi, Senin (20/10/2014).

Pemerintah juga telah menaikkan tarif tegangan listrik (TTL), namun lagi-lagi subsidi listrik terus membengkak. Menurut Gde, hal tersebut akan terus terulang selama akar permasalahannya tidak ditangani, yakni “konsumsi energi berkeadilan”. “Persoalan di hilir tidak bisa dicarikan solusinya di hulu,” ucap dia.

Gde menuturkan, lebih dari 90 persen BBM bersubsidi diserap oleh sektor transportasi. Dari sini, dia memastikan, penyediaan transportasi menjadi kunci mengurangi beban subsidi BBM. Sayangnya, selama ini masalah transportasi nyaris tanpa perlindungan dari pemerintah dan diserahkan ke swasta.

Pola kebijakan liberal seperti itu, menurut Gde, tidak cocok dengan Indonesia. Dia berharap pemerintah bersedia merealokasikan subsidi dari subsidi BBM pada penyediaan transportasi murah dan mudah (affordable dan accessible).

“Di Eropa dan Cina, pemerintah menyubsidi transportasi umum secara besar-besaran, sementara angkutan pribadi dibatasi dan konsumsi energi dikenakan "carbon-tax". Ini yang saya maksud "konsumsi energi yang berkeadilan",” jelas alumnus ITB itu.

Gde yakin, Presiden baru Joko Widodo memahami betul pentingnya penyediaan transportasi murah dan mudah. Gde bilang, Jokowi ketika menjadi Gubernur DKI Jakarta waktu itu berkali-kali mengatakan, pembangunan transportasi haruslah memfasilitasi orang, bukan memfasilitasi mobil.

“Pemikiran-pemikiran beliau ini yang membuat saya menaruh kepercayaan besar pada Jokowi. Saya yakin legasi terbesar Jokowi dalam lima tahun pemerintahannya adalah menghapus subsidi BBM. Dan saya yakin hal itu bisa dilakukan,” tandas Gde.

Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/10/20/182234326/SBY.Pernah.Naikkan.Harga.BBM.tapi.Subsidi.Terus.Membengkak.